Mengenal Albumin, Protein Penting yang Diproduksi oleh Organ Hati

Albumin yang diproduksi hati mempengaruhi hampir semua sistem transportasi dalam tubuh manusia.

Albumin yang beredar dalam darah sepenuhnya bergantung pada kemampuan hati untuk memproduksinya setiap hari tanpa jeda.

Di antara ratusan protein yang ada dalam tubuh manusia, albumin termasuk yang paling melimpah di dalam plasma darah. Protein ini memiliki struktur unik yang membuatnya mampu mengikat dan mengangkut berbagai zat dari satu tempat ke tempat lain dalam sistem peredaran darah.

Memahami protein ini berarti memahami salah satu cara hati menjaga keseimbangan tubuh yang jarang mendapat sorotan, meski dampaknya terasa di hampir setiap organ.

Baca: 7 Fungsi Hati Manusia yang Wajib Diketahui

Albumin, Protein Penting dari Organ Hati

Apa Itu Albumin dan Bagaimana Hati Memproduksinya?

Albumin termasuk dalam kelompok protein globular yang produksinya eksklusif oleh sel hati atau hepatosit. Dalam kondisi normal, hati memproduksi sekitar 10 hingga 15 gram albumin setiap harinya. Hal ini menjadi salah satu tugas produksi protein terbesar hati.

Proses produksinya berawal dari penyerapan asam amino dari darah, yang kemudian menjadi rantai protein di dalam hepatosit. Protein ini langsung dilepaskan ke aliran darah tanpa melalui penyimpanan terlebih dahulu.

Kadar protein jenis ini yang normal berkisar antara 3,5 hingga 5 gram per desiliter. Ketika hati mengalami kerusakan, produksi protein menurun dan kadarnya dalam darah pun ikut turun, sebuah tanda yang sering dokter gunakan untuk menilai seberapa berat gangguan fungsi hati.

Baca: Bahaya Penumpukan Zat Besi Berlebih yang Merusak Jaringan Hati

Peran Albumin dalam Menjaga Tekanan Onkotik Darah

Salah satu fungsi albumin yang paling vital menyangkut tekanan onkotik, yaitu tekanan yang mempertahankan cairan agar tetap berada di dalam pembuluh darah dan tidak bocor ke jaringan sekitarnya. Protein ini menjadi protein utama yang menghasilkan tekanan onkotik ini.

Ketika kadar protein turun drastis, tekanan onkotik melemah dan cairan mulai merembes keluar dari pembuluh darah ke jaringan. Inilah yang menyebabkan pembengkakan atau edema pada kaki, perut, bahkan paru-paru pada pasien dengan gangguan hati berat.

Kondisi penumpukan cairan di rongga perut, asites, merupakan salah satu komplikasi yang langsung berkaitan dengan rendahnya kadar albumin akibat kerusakan hati. Tubuh kehilangan kemampuannya mempertahankan distribusi cairan yang seimbang.

Baca: Bahaya Gula Tersembunyi Pemicu Fatty Liver

Albumin sebagai Pengangkut Zat dalam Darah

Selain menjaga tekanan cairan, protein ini juga berfungsi sebagai kendaraan transportasi bagi berbagai zat yang tidak larut dalam air. Hormon tiroid, asam lemak bebas, bilirubin, kalsium, dan banyak obat-obatan menumpang protein untuk bisa bergerak melalui aliran darah.

Tanpa albumin, zat-zat ini tidak bisa mencapai organ tujuannya secara efisien. Obat-obatan tertentu bahkan sangat bergantung pada albumin untuk bisa terdistribusi ke seluruh tubuh, sehingga penurunan kadar albumin juga memengaruhi efektivitas pengobatan pada pasien sakit hati.

Bilirubin, produk sampingan dari pemecahan sel darah merah, diangkut ke hati oleh albumin untuk diproses lebih lanjut. Bila protein ini tidak cukup, bilirubin bebas yang tidak terikat bisa menumpuk di jaringan dan menyebabkan kulit serta mata tampak kuning.

Baca: Bagaimana Cara Kerja Hati dalam Membuang Racun dan Sisa Metabolisme?

Tanda-Tanda Kadar Albumin yang Menurun

Penurunan kadar protein ini biasanya tidak menimbulkan gejala yang spesifik di tahap awal. Kelelahan yang tidak proporsional, mudah memar, dan luka yang lama sembuh bisa menjadi tanda awal yang sering diabaikan.

Pembengkakan yang dimulai dari pergelangan kaki dan kaki bagian bawah lalu naik ke atas menjadi gejala yang lebih jelas dan biasanya mendorong seseorang untuk memeriksakan diri.

Pemeriksaan darah sederhana bisa langsung mengukur kadar albumin dan memberikan gambaran kondisi fungsi hati.

Penurunan massa otot yang cepat juga berkaitan dengan rendahnya protein ini, karena tubuh mulai memecah protein otot untuk menutupi kekurangan. Kondisi ini semakin memperberat keadaan keseluruhan bila tidak segera mendapat penanganan.

Baca: Dampak Begadang Terhadap Gangguan Proses Regenerasi Sel Hati

Menjaga Liver lewat Konsumsi Herbal

Tidak ada cara langsung untuk meningkatkan produksi albumin selain menjaga hati dalam kondisi sehat. Sel-sel hati yang sehat dan cukup jumlahnya menjadi satu-satunya pabrik yang mampu menghasilkan protein penting ini.

Herbatitis dengan kandungan temulawak, kunyit, dan jombang hadir sebagai suplemen herbal yang mendukung kesehatan liver secara menyeluruh.

Mengenal Albumin, Protein Penting yang Diproduksi oleh Organ Hati herbatitis

Baca: Waspada Fatty Liver: Mengapa Penyakit Hati Berlemak Bisa Menyerang Usia Muda?

Temulawak membantu fungsi metabolisme hati, sementara kunyit memberikan perlindungan antiinflamasi bagi sel-sel hati yang rentan mengalami kerusakan.

Kadar albumin yang terjaga dalam rentang normal mencerminkan hati yang masih bekerja dengan baik. Menjaga kesehatan hati sejak dini, sebelum gejala kerusakan muncul, menjadi cara paling efektif untuk memastikan produksi albumin tetap berjalan optimal sepanjang waktu.

Mulai konsumsi Herbatitis sekarang dan berikan hati dukungan yang selama ini kita butuhkan.