Memahami resiko hati berlemak menjadi langkah penting untuk pencegahan dan penanganan lebih cepat.
Penyakit hati berlemak non-alkoholik atau NAFLD sekarang menjadi masalah kesehatan global dan sering muncul tanpa gejala awal. Kondisi ini berpotensi untuk berkembang menjadi gangguan hati yang lebih berat.
Maka, pembahasan tahapan penyakit hati serta mengenali perbedaannya dengan sirosis membantu menentukan arah perawatan dan harapan kesehatan.
Pertama, mari kita pahami inti masalah ini.
Baca: Cara Jaga Hati Sehat dari Kerusakan Akibat Racun
Hati Berlemak: Penumpukan Lemak dan Hubungannya dengan Resistensi Insulin
Hati Berlemak muncul saat lemak, terutama trigliserida, menumpuk berlebihan di sel hati atau hepatosit. Kondisi ini terbagi ke dalam dua kelompok utama.
Tahap awal disebut Steatosis Sederhana, yaitu penumpukan lemak tanpa peradangan berarti, dan kondisi ini sering membaik dengan perubahan gaya hidup. Tahap lanjutan adalah NASH, yaitu kondisi lemak disertai peradangan serta kerusakan sel hati.
Pada tahap NASH, resiko hati berlemak meningkat karena kondisi dapat berlanjut menjadi fibrosis atau jaringan parut.
Baca: Gejala Sakit Hati: Waspadai 5 Tanda Awal Kerusakan
Penyebab utama NAFLD meliputi resistensi insulin, obesitas, serta konsumsi gula berlebih, terutama fruktosa. Faktanya, hati menjadi organ utama yang memproses fruktosa dalam jumlah besar.
Saat asupan gula dan kalori berlebihan, hati mengubah kelebihan tersebut menjadi lemak. Resistensi insulin membuat sel hati lebih mudah menyimpan lemak, sehingga kondisi terus memburuk.
Oleh karena itu, perbaikan resistensi insulin melalui pengaturan pola makan rendah karbohidrat olahan membantu menurunkan resiko hati berlemak secara nyata.
Baca: Kerusakan Hati Alkohol: Bolehkah Minum Paracetamol?
Perbedaan Hati Berlemak dengan Sirosis
Setiap orang dengan resiko hati berlemak perlu tahu perbedaannya dengan sirosis sejak dini.
Pemahaman tahap penyakit ini sangat penting. Tahap pertama, Steatosis, masih memiliki peluang pulih tinggi dengan perbaikan pola makan.
Tahap berikutnya yaitu Fibrosis, yaitu terbentuknya jaringan parut di sekitar sel hati rusak, dan kondisi ini masih bisa membaik.
Namun, Sirosis menjadi tahap akhir penyakit hati kronis yang tidak bisa kembali normal. Sirosis ditandai kerusakan berat dengan jaringan parut luas yang menggantikan jaringan hati sehat.
Baca : Trik Hidup Sehat dengan Penyakit Hepatitis
Akibatnya, jaringan parut ini mengganggu fungsi hati dan aliran darah, lalu memicu hipertensi portal serta penurunan fungsi organ.
Kondisi ini dapat berujung pada gagal hati dan kanker hati.
Karena itu, resiko hati berlemak terletak pada kemungkinan progresi menuju Sirosis bila penanganan terlambat, saat peluang pemulihan sudah sangat kecil.
Baca: Resiko Hati Berlemak: Cara Pencegahan Paling Tepat
Mencegah Resiko Hati Berlemak dan Peradangan

Intervensi sejak awal dengan dukungan herbal membantu membalikkan steatosis dan menahan perkembangan fibrosis.
Herbatitis hadir sebagai obat herbal membantu mendukung pengelolaan Hati Berlemak. Komposisinya terdiri atas beberapa tanaman herbal. Pertama, ada Temulawak dan Kunyit.
Kedua rimpang ini memiliki kandungan antiinflamasi alami yang kuat. Peradangan berperan besar dalam perubahan Hati Berlemak sederhana menjadi NASH.
Karena itu, Kunyit dan Temulawak membantu menjaga sel hati dari kerusakan lanjutan.
Temulawak juga mendukung aliran empedu secara alami. Aliran empedu ini membantu hati membuang kolesterol serta lemak berlebih yang memicu steatosis.
Selanjutnya ada Tanaman Jombang. Tanaman Jombang mendukung produksi empedu dan membantu melindungi jaringan hati. Faktanya, tanaman ini membantu proses pembersihan alami hati yang sangat penting.
Dengan demikian, Herbatitis memberi manfaat ganda, yaitu membantu mengurangi lemak lewat Temulawak serta menekan peradangan lewat Kunyit.
Baca: Apa itu Hepatitis Alkohol?
Indikator Laboratorium dan Diagnosis Dini
Diagnosis hati berlemak sering diawali pemeriksaan enzim hati seperti AST dan ALT.
Namun, hasil enzim normal tidak selalu menyingkirkan Hati Berlemak. Karena itu, pemeriksaan lanjutan tetap penting.
Dokter biasanya menyarankan USG perut untuk melihat lemak hati atau FibroScan. FibroScan menilai kekakuan hati sebagai tanda tingkat fibrosis.
Faktanya, diagnosis dini memungkinkan perbaikan kondisi tanpa obat resep, terutama saat masih Steatosis.
Sebab, resiko hati berlemak tetap ada tanpa pemantauan indikator biokimia rutin. Maka, jangan menunggu hingga muncul keluhan berat.
Baca: Merasa Kuat Minum Alkohol? Waspada Tanda Hepatitis Alkohol!
Resiko hati berlemak menjadi ancaman penting karena dapat berkembang menjadi Sirosis yang membahayakan nyawa.
Oleh karena itu, Kenali Perbedaan dengan Sirosis dan segera bertindak setelah diagnosis Hati Berlemak muncul.
Maka dari itu, kombinasikan perubahan gaya hidup seperti diet rendah gula dan aktivitas fisik dengan dukungan obat herbal hati seperti Herbatitis.
Herbatitis membantu menekan peradangan, mendukung aliran empedu, dan menjaga sel hati tetap sehat.
Secara umum, hati mampu memperbaiki diri dengan baik, tetapi tindakan harus dilakukan sebelum fibrosis menetap dan Hati Berlemak semakin meluas.
Jika tertarik dengan Herbatitis, beli di toko resmi melalui link di bawah ini.




