Menjawab pertanyaan rasa asi seperti apa sebenarnya cukup unik, karena tidak ada satu jawaban yang pasti.
Banyak ibu menyusui dan pasangannya, atau bahkan orang lain, merasa penasaran dengan cita rasa air susu ini.
Bagi bayi, ASI menjadi makanan pertama dan satu-satunya selama berbulan-bulan, yang rasanya tentu mereka kenali dengan baik.
Namun, bagi orang dewasa yang mencoba mencicipinya, deskripsinya sering kali beragam.
Berbeda dengan susu formula yang rasanya selalu konsisten, rasa ASI sangat dinamis.
Cita rasanya dapat berubah dari hari ke hari, bahkan dari jam ke jam, tergantung pada banyak faktor.
Hal ini justru keunggulan alami untuk mengenalkan bayi pada berbagai variasi rasa sejak dini.
Baca: Suplemen Pasca Melahirkan yang Baik untuk Ibu Menyusui
Apa Benar Rasa ASI Manis dan Creamy?
Secara umum, deskripsi yang paling sering muncul ialah manis. Rasa manis ini berasal dari laktosa, yaitu karbohidrat utama dalam ASI.
Tingkat kemanisannya mirip dengan susu sapi yang telah ditambahkan sedikit gula, tingkat kekentalannya saja yang berbeda.
Banyak yang menggambarkannya mirip dengan susu almond (almond milk) yang unsweetened namun dengan sedikit madu, atau bahkan air kelapa yang sedikit creamy.
Konsistensi ASI, terutama foremilk (ASI yang keluar di awal sesi menyusui), cenderung lebih encer dan ringan.
Namun, hindmilk (ASI yang keluar di akhir sesi) jauh lebih kental, berlemak, dan rasanya lebih gurih atau creamy, mirip seperti sisa es krim vanila yang sudah meleleh.
Baca: Apa Manfaat dari ASI untuk Bayi dan Ibu?
Faktor yang Mempengaruhi Rasa ASI Seperti Apa
Ternyata, rasa asi seperti apa tidak pernah konsisten dari satu sesi menyusui ke sesi berikutnya.
Faktor terbesar yang memengaruhinya adalah diet atau pola makan sang ibu. ASI diproduksi dari nutrisi yang ditarik dari aliran darah ibu.
Artinya, apa yang ibu konsumsi beberapa jam sebelumnya dapat memberikan jejak rasa pada ASI. Ibu yang mengonsumsi banyak bawang putih, misalnya, akan menghasilkan ASI dengan sedikit aroma bawang putih.
Begitu pula jika ibu mengonsumsi makanan pedas atau rempah kuat seperti kari. Bahkan herbal seperti daun mint atau eukaliptus juga bisa mengubah rasanya dan ini bukanlah hal buruk.
Para ahli percaya ini adalah cara alami bayi untuk “berlatih” mengenali beragam rasa (flavour training) yang nantinya akan ia temui saat mulai MPASI (Makanan Pendamping ASI).
Baca: Apakah Suami Boleh Minum ASI Istri? Ini Jawaban Medisnya
Penjelasan Medis tentang Rasa ASI
Selain karena diet, ada kondisi medis atau fisiologis tertentu yang membuat rasa asi seperti apa berubah drastis, terutama menjadi asin.
Rasa asin ini biasanya tidak disukai bayi. Penyebab paling umum adalah mastitis.
Mastitis adalah peradangan atau infeksi pada jaringan payudara.
Saat terjadi infeksi, tubuh merespons dengan mengirimkan natrium (sodium) dan klorida ke area tersebut, sehingga ASI menjadi asin dan produksinya menurun.
Penyebab kedua adalah saat proses menyapih (weaning). Ketika frekuensi menyusui berkurang drastis, tubuh ibu mulai menghentikan produksi susu.
ASI di fase ini akan kembali ke komposisi mirip kolostrum, yaitu lebih tinggi natrium dan lebih rendah laktosa, sehingga rasanya menjadi asin.
Baca: ASI Terbuat dari Apa? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Produksi ASI Lebih Lancar dan Terjaga Kualitasnya

Di luar variasi rasa yang wajar tersebut, kekhawatiran terbesar ibu menyusui biasanya bukanlah soal rasa, melainkan soal jumlah ASI yang berkurang padahal masih berada di masa menyusui.
Banyak ibu merasa cemas apakah produksi ASI mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi yang terus bertambah.
Kecemasan dan kelelahan fisik dari ibu justru dapat menghambat refleks pengeluaran susu (LDR).
Untuk mendukung perjuangan ibu dalam memberikan ASI, banyak yang mencari bantuan dari bahan-bahan alami sebagai pelancar ASI.
Dua bahan alami yang paling populer adalah daun katuk dan biji kelabet (fenugreek).
Daun katuk telah menjadi andalan ibu-ibu di Indonesia secara turun-temurun untuk meningkatkan volume ASI.
Sementara itu, biji kelabet bermanfaat untuk merangsang kelenjar susu karena kandungan fitoesterogennya.
Untuk mendapatkan manfaat keduanya secara praktis, kini tersedia suplemen herbal seperti Fulasi.
Fulasi memadukan ekstrak daun katuk dan ekstrak biji kelabet dalam satu kapsul.
Formulasi ini dirancang untuk membantu para ibu yang sedang berupaya melancarkan produksi ASI mereka.
Fulasi hadir sebagai dukungan praktis yang membantu ibu mengurangi kecemasan akan suplai ASI, sehingga dapat lebih fokus menikmati momen bonding bersama bayinya.
Bagi yang tertarik, akses informasi produk, konsultasi gratis, dan pemesanan selanjutnya bisa melalui link di bawah ini.




