Kebiasaan makan terlalu cepat sering kali menyebabkan masalah pencernaan, karena lambung tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk beradaptasi. Proses mengunyah yang tidak memadai memaksa sistem pencernaan untuk bekerja lebih keras dalam menghancurkan potongan makanan yang besar.
Sebagai respon terhadap beban yang berat ini, lambung akan menghasilkan asam dalam jumlah yang sangat banyak dalam waktu singkat. Situasi ini menyebabkan iritasi parah pada dinding lambung akibat paparan cairan asam yang sangat pekat.
Banyak orang tidak memperhatikan sinyal kenyang dari otak karena mereka mengonsumsi makanan dengan cepat. Padahal, otak membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit untuk mengirimkan sinyal kenyang kepada sistem pencernaan.
Sebagai konsekuensinya, para penderita sering kali mengalami kebiasaan makan berlebih yang kemudian memberi tekanan pada katup kerongkongan hingga menjadi sangat rentan.
Baca: Penyebab Asam Lambung Naik yang Sering Terjadi
Risiko Udara Masuk Akibat Makan Terlalu Cepat
Aktivitas makan terlalu cepat menyebabkan banyak udara ikut tertelan ke dalam saluran pencernaan manusia secara tidak sengaja. Udara yang terperangkap ini memicu timbulnya gas yang membuat perut terasa sangat kembung dan juga begah.
Tekanan gas di dalam perut mendorong cairan asam lambung naik kembali menuju saluran esofagus penderita tersebut. Hal ini sering kali menimbulkan rasa panas pada dada atau heartburn yang sangat mengganggu kenyamanan setelah makan.
Selain itu, udara berlebih mengganggu gerakan peristaltik usus dalam mendorong sisa metabolisme menuju ke saluran pembuangan. Lambung yang penuh dengan gas dan makanan kasar akan mengalami kontraksi yang sangat menyakitkan bagi para penderita.
Baca: Cara Mengatasi Asam Lambung Secara Alami di Rumah
Gangguan Enzim Akibat Makan Terlalu Cepat yang Kronis
Proses penghancuran nutrisi terganggu karena enzim di dalam air liur tidak tercampur secara merata dengan makanan. Kebiasaan makan terlalu cepat menghilangkan kesempatan bagi enzim amilase untuk mulai memecah karbohidrat kompleks sejak di mulut.
Lambung yang menerima makanan kasar harus mengeluarkan energi ekstra sehingga suhu internal perut meningkat secara tidak normal. Peningkatan suhu ini mengganggu stabilitas enzim pepsin dalam mengolah protein hewani yang masuk ke dalam tubuh manusia.
Ketidakseimbangan proses biokimia ini memicu peradangan pada lapisan mukosa yang melindungi dinding bagian dalam organ lambung. Jika hal ini terus berlanjut maka risiko terjadinya penyakit maag kronis atau gastritis akan semakin meningkat drastis.
Oleh karena itu mengunyah makanan sebanyak tiga puluh kali sangat dokter sarankan untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan.
Baca: Lambung Terasa Penuh: Apakah Normal atau Berbahaya?
Hubungan Tekanan Perut dan Refluks Asam Lambung
Volume makanan yang masuk secara mendadak menciptakan tekanan intra-abdomen yang sangat besar pada area panggul atas. Tekanan ini memaksa sfingter esofagus bawah terbuka sehingga asam lambung mengalir balik menuju ke arah kerongkongan penderita.
Penderita GERD sering kali merasakan sensasi pahit pada pangkal tenggorokan akibat refluks asam yang sangat kuat. Kondisi tersebut merupakan dampak nyata dari pola makan yang tidak teratur dan terburu-buru setiap harinya tersebut.
Luka pada saluran kerongkongan dapat muncul jika paparan asam terjadi secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama. Memperbaiki ritme makan adalah langkah awal yang paling bijak untuk melindungi saluran pencernaan dari kerusakan lebih lanjut.
Stabilitas tekanan di dalam perut sangat bergantung pada cara manusia memasukkan nutrisi ke dalam sistem tubuh mereka.
Baca: Nyeri Ulu Hati: Gejala dan Cara Mengatasinya
Pentingnya Kesadaran Saat Makan untuk Kesehatan Lambung
Menerapkan konsep mindful eating membantu penderita untuk lebih menghargai setiap suapan makanan yang masuk ke dalam mulut. Fokus pada rasa dan tekstur makanan akan secara alami memperlambat ritme kunyahan agar lambung merasa lebih rileks.
Hindari makan sambil menonton televisi atau bermain gawai karena hal tersebut sering kali memicu kebiasaan buruk. Ketenangan saat makan membantu saraf otonom bekerja secara seimbang dalam mengatur pengeluaran enzim dan juga cairan asam.
Tubuh yang rileks akan mengalirkan darah secara lancar menuju organ pencernaan untuk mendukung proses metabolisme nutrisi harian. Lingkungan yang tenang saat menyantap hidangan juga menurunkan kadar hormon stres yang dapat memicu asam lambung tinggi.
Kesehatan pencernaan yang prima akan memberikan energi yang maksimal bagi tubuh untuk menjalankan berbagai aktivitas harian lainnya.
Baca: Pantangan Asam Lambung yang Perlu Dihindari Sehari-hari
Solusi Herbal Soluma Mengatasi Perih Lambung
Mengatasi rasa nyeri dan panas pada ulu hati akibat pola makan buruk memerlukan bantuan nutrisi herbal berkualitas. Kombinasi temulawak dan kunyit dalam Soluma bekerja aktif untuk melindungi serta memperbaiki lapisan dinding lambung yang teriritasi.

Kandungan kayu manis dan ketumbar secara alami menormalkan kembali produksi asam lambung agar tidak naik menuju area kerongkongan. Soluma juga mengandung ekstrak daun sembung yang terbukti efektif untuk meredakan mual serta perih akibat makan terlalu cepat.
Khasiat alami ini membantu meringankan gejala GERD serta rasa terbakar di dada dengan cara yang sangat aman. Nutrisi dari suplemen ini mempercepat regenerasi sel lambung sehingga penderita dapat kembali menikmati hidangan dengan rasa nyaman kembali.
Kembalikan fungsi lambung yang sehat dan nyaman dengan rutin mengonsumsi formula herbal unggulan melalui tombol berikut.




