Hubungan Durasi Menonton Televisi dengan Risiko Diabetes

Kebiasaan duduk diam terlalu lama menurunkan sensitivitas insulin dan memicu penumpukan lemak yang membahayakan kesehatan jantung.

Banyak studi kesehatan menunjukkan bahwa durasi menonton televisi berhubungan erat dengan peningkatan kemungkinan terkena diabetes melitus. Kebiasaan duduk diam berlama-lama di depan layar dapat mengurangi kemampuan otot dalam menyerap gula dari makanan sehari-hari.

Gaya hidup yang kurang aktif ini mengganggu fungsi hormon insulin, sehingga kadar glukosa dalam tubuh tetap sangat tinggi. Ketika otot tidak aktif, proses pembakaran kalori dari makanan yang dikonsumsi menjadi sangat lambat.

Kenaikan frekuensi ngemil saat melihat layar juga memperburuk akumulasi lemak berbahaya dalam jaringan tubuh. Lebih lanjut, kombinasi antara minimnya aktivitas fisik dan konsumsi kalori yang berlebihan menciptakan kondisi metabolik yang sangat berisiko.

Makanya, sangat penting bagi setiap individu untuk mulai mengatur waktu bersantai agar terhindar dari penyakit degeneratif yang berkepanjangan.

Baca: Diabetes Usia Muda Apa Saja Faktor yang Mempengaruhinya

Pengaruh Durasi Menonton Televisi Terhadap Kerja Insulin

Sistem metabolisme tubuh mulai mengalami penurunan fungsi secara bertahap akibat durasi menonton televisi yang terlalu panjang. Otot-otot besar pada bagian kaki dan panggul berhenti melakukan kontraksi sehingga sensitivitas insulin menurun secara drastis.

Kondisi ini memaksa organ pankreas untuk memproduksi hormon insulin dalam jumlah yang jauh lebih banyak lagi. Lama-kelamaan sel pankreas akan mengalami kelelahan kronis sehingga produksi insulin tidak lagi mencukupi kebutuhan harian.

Kadar gula darah yang melonjak secara terus-menerus akan merusak dinding pembuluh darah di seluruh jaringan tubuh. Risiko terjadinya resistensi insulin menjadi semakin nyata bagi individu yang tidak membatasi waktu santai mereka tersebut.

Baca: Benarkah Kencing Manis Bisa Mengurangi Keperkasaan Pria?

Risiko Obesitas Akibat Durasi Menonton Televisi yang Berlebih

Penumpukan lemak viseral pada area perut merupakan dampak paling nyata dari durasi menonton televisi setiap hari. Lemak yang membungkus organ dalam ini mengeluarkan zat kimia yang memicu peradangan pada tingkat seluler penderita.

Peradangan kronis mengganggu komunikasi antar sel sehingga metabolisme gula dan lemak menjadi tidak berjalan secara seimbang. Banyak orang tidak menyadari bahwa berat badan yang meningkat merupakan awal dari masalah kesehatan yang serius.

Mengurangi waktu diam di depan layar membantu tubuh untuk membakar simpanan energi yang ada dalam otot. Setiap gerakan kecil sangat berarti untuk mengaktifkan kembali enzim pencernaan yang sudah mulai tertidur akibat kurang gerak.

Pola hidup aktif merupakan kunci utama untuk menjaga berat badan tetap ideal dan terhindar dari obesitas.

Baca: Gula Darah Tinggi Bisa Ganggu Kejantanan Pria? Ini Faktanya

Hubungan Pola Makan Sedenter dengan Kenaikan Gula Darah

Kebiasaan makan sambil menatap layar sering kali membuat seseorang kehilangan kontrol atas porsi makanan yang masuk. Paparan iklan makanan cepat saji selama durasi menonton televisi juga memengaruhi preferensi diet harian yang tidak sehat.

Asupan gula dan garam yang tinggi dari camilan instan memicu lonjakan tekanan darah secara sangat mendadak. Kondisi ini jadi memperburuk beban kerja ginjal dalam menyaring zat sisa metabolisme yang beredar di dalam aliran darah.

Tubuh memerlukan waktu yang lebih lama untuk memproses makanan jika tidak dibarengi dengan aktivitas fisik yang cukup. Ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan energi yang keluar menjadi akar penyebab munculnya penyakit gula darah tinggi.

Mulailah membiasakan diri untuk makan tanpa gangguan layar agar otak bisa memberikan sinyal kenyang secara tepat.

Baca: Pria dengan Kencing Manis Rentan Disfungsi Ereksi, Benarkah?

Dampak Kurang Gerak pada Kadar Kolesterol dan Asam Urat

Kurangnya aktivitas fisik akibat terlalu lama duduk diam menyebabkan kadar kolesterol jahat dalam darah meningkat sangat tajam. Aliran darah yang melambat mempermudah pembentukan plak pada dinding arteri yang mengarah pada risiko serangan jantung koroner.

Selain masalah gula darah masalah kenaikan asam urat juga sering kali menghantui penderita dengan gaya hidup sedenter. Ginjal membutuhkan sirkulasi darah yang baik untuk membuang kristal asam urat melalui saluran kemih secara lancar harian.

Dampak dari durasi menonton televisi yang tidak terkontrol mencakup gangguan kesehatan sistemik yang saling berkaitan satu sama lain. Meningkatkan frekuensi berjalan kaki setelah menonton dapat membantu memperlancar kembali aliran darah menuju seluruh jaringan sel tubuh.

Pada akhirnya, kebugaran fisik yang terjaga akan memberikan perlindungan alami bagi tubuh dari berbagai serangan penyakit di masa tua.

Baca: Keperkasaan Pria Menurun? Waspadai Kencing Manis

Menjaga Kesehatan Tubuh Secara Menyeluruh dengan Alami

Menjaga stabilitas kadar gula darah dan kolesterol memerlukan bantuan nutrisi alami yang mampu memperbaiki metabolisme secara total. Afiapro hadir dengan komposisi herbal kayu manis dan juga sambiloto yang sangat efektif untuk membantu mengontrol glukosa darah.

afiapro durasi menonton televisi

Kandungan temu putih, temulawak, serta temu mangga dalam ramuan ini bekerja aktif menjaga kesehatan fungsi hati manusia. Ekstrak pegagan dan meniran membantu meningkatkan daya tahan tubuh agar tetap kuat menghadapi berbagai risiko peradangan tingkat sel.

Ramuan khusus Afiapro juga memanfaatkan khasiat cabe jawa dan rumput teki untuk menormalkan asam urat penderita secara alami. Produk ini sangat cocok bagi penderita yang ingin memperbaiki metabolisme tubuh akibat pengaruh durasi menonton televisi yang berlebihan.

Miliki tubuh yang bugar dan juga bebas dari risiko diabetes dengan mengonsumsi suplemen herbal pilihan di sini.