Fase Persalinan dan Cara Menghadapinya

Mengetahui tahapan dan fase persalinan merupakan pengetahuan dasar yang sangat penting bagi ibu.

Proses kelahiran terbagi menjadi empat tahap utama. Setiap tahap memiliki karakteristik dan tantangannya sendiri.

Dengan memahami apa yang terjadi di tubuh, ibu dapat mempersiapkan diri secara fisik dan mental.

Pemahaman ini membantu ibu bekerja sama secara efektif dengan tubuh. Akhirnya, proses kelahiran dapat berjalan lebih lancar dan efektif.

Kekuatan tubuh dan pikiran adalah kunci untuk melewati setiap fase persalinan ini dengan baik.

Baca: Paket Bersalin Herbal Nifas Aman dan Halal

Fase Persalinan Pertama

Fase persalinan pertama dimulai saat kontraksi mulai teratur.

Tahap ini merupakan tahap terlama, dan biasanya terbagi menjadi tiga sub-fase: laten, aktif, dan transisi.

Fase ini berakhir ketika serviks telah membuka lengkap hingga 10 sentimeter.

Fase Laten

Ditandai dengan kontraksi yang masih ringan, tidak teratur, dan serviks baru membuka hingga 3-4 cm.

Ibu dapat memanfaatkan fase ini untuk beristirahat, makan makanan ringan, dan mengalihkan perhatian.

Kontraksi pada fase ini biasanya dapat dihadapi dengan teknik pernapasan dasar.

Fase Aktif

Kontraksi menjadi lebih kuat, teratur, dan sering. Serviks membuka dari 4 cm hingga 7 cm.

Ini waktu yang tepat bagi ibu untuk menerapkan mobilitas. Berjalan, duduk di birthing ball, atau merangkak akan membantu bayi turun.

Tenaga pendamping memberikan dukungan pijatan ringan dan afirmasi positif.

Fase Transisi

Fase ini paling intens, tetapi juga paling singkat. Pembukaan bergerak dari 8 cm hingga 10 cm.

Kontraksi datang sangat kuat dan berdekatan. Ibu harus fokus penuh pada pernapasan.

Jangan menahan diri; biarkan suara keluar untuk melepaskan ketegangan.

Baca: Paket bersalin Percepat Pemulihan Luka Lahiran

Fase Persalinan Kedua

Setelah serviks membuka lengkap 10 cm, ibu memasuki fase persalinan kedua. Fase ini melibatkan dorongan hingga bayi lahir.

Dorongan harus dilakukan secara efektif, tidak terburu-buru, dan sesuai dengan sinyal dari tubuh ibu. Pada fase ini, bayi bergerak melalui jalan lahir.

Ibu harus mengikuti instruksi tenaga kesehatan mengenai kapan waktu yang tepat untuk mulai mendorong.

Mendoronglah saat ibu benar-benar merasakan dorongan alami (seperti ingin buang air besar). Teknik mengejan yang benar adalah kunci utama.

Jangan mengejan di wajah atau leher. Dorongan harus diarahkan ke bawah, seolah-olah sedang buang air besar. Di antara kontraksi, ibu harus beristirahat sejenak.

Manfaatkan waktu istirahat itu untuk menarik napas dalam. Dengan dorongan yang efektif, bayi akan bergerak turun hingga kepalanya terlihat, dan akhirnya seluruh tubuhnya lahir.

Induksi Persalinan: Kapan Diperlukan dan Apa Risikonya?

Fase Persalinan Ketiga dan Keempat

Dua fase persalinan terakhir seringkali terabaikan, padahal ini sangat penting bagi pemulihan ibu.

  1. Fase ketiga (kelahiran plasenta). Setelah bayi lahir, rahim akan berkontraksi lagi untuk melepaskan plasenta. Proses ini biasanya berlangsung cepat, sekitar 5 hingga 30 menit. Dokter mungkin meminta ibu mendorong ringan sekali lagi. Pada fase ini, ibu dan bayi harus segera melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). IMD membantu rahim berkontraksi alami, mempercepat pelepasan plasenta, dan mengurangi risiko perdarahan.
  2. Fase keempat (pemulihan awal). Terjadi satu hingga dua jam pertama setelah plasenta lahir. Tim medis memantau ketat kondisi ibu. Mereka memeriksa tanda-tanda vital dan memastikan rahim berkontraksi dengan baik. Fase ini adalah waktu emas untuk skin-to-skin contact yang intens antara ibu dan bayi. Hal ini membantu menstabilkan suhu bayi dan meningkatkan bonding emosional.

Persiapan Persalinan yang Tepat untuk Ibu Lebih Tenang dan Siap

Tubuh Pulih Cepat Setelah Persalinan

Setelah melewati semua fase persalinan yang intens, tubuh ibu memerlukan dukungan optimal untuk memulihkan diri.

Penyembuhan luka dan kelancaran produksi Air Susu Ibu (ASI) merupakan dua prioritas utama.

Tubuh ibu membutuhkan asupan protein yang sangat tinggi guna meregenerasi sel dan memperbaiki jaringan yang rusak.

Selain itu, energi ibu harus segera dipulihkan untuk menjamin suplai ASI yang berlimpah, sebab ASI merupakan sumber nutrisi utama bagi si Kecil.

Fase Persalinan yochanna fulasi

Kombinasi nutrisi alami dapat memberikan dukungan terbaik.Ikan gabus (ikan kutuk) dan teripang, misalnya, merupakan dua sumber albumin yang melimpah.

Albumin di sini sangat efektif mempercepat regenerasi sel, penyembuhan luka jahitan, serta meminimalkan risiko infeksi.

Di sisi lain, daun katuk dan biji klabet (fenugreek) adalah galaktogog alami. Kedua bahan ini terbukti merangsang hormon yang meningkatkan volume dan kualitas ASI ibu.

Untuk memudahkan ibu mendapatkan kombinasi nutrisi terbaik ini tanpa perlu mengolahnya, suplemen herbal Yochanna dan Fulasi hadir sebagai solusi praktis.

Kedua suplemen ini memadukan kekuatan ekstrak ikan gabus/teripang, daun katuk, dan biji klabet yang lengkap.

Mengonsumsi Yochanna dan Fulasi secara teratur akan mendukung pemulihan tubuh ibu yang cepat, sehingga ibu dapat fokus merawat buah hati dengan tubuh yang bugar dan ASI yang melimpah.

Bagi yang tertarik, akses informasi produk dan pemesanan melalui link berikut :