Apa Manfaat dari ASI untuk Bayi dan Ibu?

Apa manfaat dari ASI sebetulnya? Pertanyaan ini terdengar klasik, namun jawabannya sangatlah luas dan menakjubkan.

Air Susu Ibu (ASI) adalah standar nutrisi bayi.

Cairan ini bukan hanya makanan, tetapi juga substansi biologis yang komposisinya sangat kompleks dan sempurna untuk kebutuhan bayi.

Selama puluhan tahun, penelitian medis terus mengungkap lapisan-lapisan baru keajaiban ASI.

Manfaatnya pun tidak berhenti hanya pada bayi.

Proses menyusui menciptakan dampak biologis dan emosional yang signifikan bagi sang ibu.

Memahami manfaat ganda ini penting untuk memperkuat komitmen dan dukungan bagi para ibu menyusui.

Baca: Suplemen Pasca Melahirkan yang Baik untuk Ibu Menyusui

Manfaat ASI untuk Nutrisi dan Imunitas Bayi

Manfaat utama ASI bagi bayi terletak pada dua pilar: nutrisi dan proteksi. Dari segi nutrisi, ASI adalah makanan lengkap.

Komposisinya mengandung rasio ideal antara protein (dominan whey), lemak, dan karbohidrat yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh kembang di enam bulan pertama.

Hebatnya, komposisi ini dinamis.

ASI di awal menyusui (foremilk) lebih encer untuk melepas dahaga, sementara hindmilk di akhir sesi lebih kental dan kaya lemak untuk mengenyangkan.

Pilar kedua adalah proteksi. ASI mengandung ribuan komponen bioaktif. Ia penuh dengan antibodi hidup (terutama sIgA) yang didapat langsung dari ibu.

Antibodi ini melapisi saluran pencernaan bayi, melindunginya dari virus dan bakteri penyebab infeksi.

ASI juga mengandung laktoferin yang menghambat pertumbuhan bakteri jahat dan sel darah putih (leukosit) yang secara aktif membunuh kuman.

Baca: ASI Terbuat dari Apa? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Manfaat ASI untuk Tumbuh Kembang Jangka Panjang

Manfaat ASI tidak berhenti setelah bayi selesai menyusu.

Berbagai penelitian jangka panjang menunjukkan korelasi kuat antara pemberian ASI dan kesehatan di masa depan.

Bayi yang mendapat ASI eksklusif terbukti memiliki risiko lebih rendah mengalami berbagai infeksi umum, seperti infeksi telinga, diare akut, dan infeksi saluran pernapasan.

Manfaat perlindungan ini berlanjut hingga masa kanak-kanak.

Anak-anak yang dulunya disusui cenderung memiliki risiko lebih rendah untuk mengembangkan kondisi kronis, seperti alergi (asma dan eksim), obesitas, diabetes tipe 1 dan 2, serta beberapa jenis leukemia.

Dari sisi kognitif, asam lemak esensial (DHA dan ARA) yang terkandung alami dalam ASI sangat krusial untuk perkembangan otak.

Beberapa studi menunjukkan sedikit keunggulan dalam skor IQ pada anak-anak yang menerima ASI.

Baca: Apakah Suami Boleh Minum ASI Istri? Ini Jawaban Medisnya

Lalu, Apa Manfaat ASI untuk Ibu Menyusui?

Fokus sering kali tertuju pada bayi, padahal ibu mendapatkan manfaat kesehatan yang sama signifikannya. Apa manfaat dari asi bagi sang ibu?

Pertama, manfaat fisik langsung pasca-persalinan. Saat bayi menyusu, tubuh ibu melepaskan hormon oksitosin.

Hormon ini tidak hanya memicu aliran susu, tetapi juga merangsang rahim untuk berkontraksi.

Kontraksi ini membantu rahim kembali ke ukuran semula lebih cepat dan secara signifikan mengurangi risiko perdarahan hebat pasca-melahirkan.

Kedua, menyusui membakar kalori ekstra (sekitar 300-500 kalori per hari).

Ini dapat membantu ibu menurunkan berat badan yang didapat selama kehamilan secara alami dan bertahap.

Manfaat jangka panjangnya bahkan lebih impresif. Menyusui menurunkan risiko ibu terkena kanker payudara dan kanker ovarium di kemudian hari.

Semakin lama seorang wanita menyusui, semakin besar perlindungan yang ia dapatkan.

Selain itu, menyusui juga mengurangi risiko diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

Baca: Begini Cara Kerja Fulasi dalam Menstimulasi Produksi ASI Alami

Mendukung Kelancaran ASI dengan Bantuan Alami

Apa Manfaat dari ASI fulasi

Melihat daftar manfaat yang begitu panjang, proses menyusui adalah sebuah investasi kesehatan yang tak ternilai.

Namun, perjalanan menyusui belum tentu mudah.

Banyak ibu, terutama di awal-awal, mengalami kekhawatiran mengenai kecukupan suplai ASI.

Rasa cemas, kelelahan, atau pelekatan yang belum sempurna bisa membuat produksi ASI terasa kurang lancar.

Dalam upaya mendukung kelancaran produksi ASI, banyak ibu beralih ke bahan-bahan alami sebagai galactagogue (pelancar ASI).

Di Indonesia, daun katuk sudah menjadi andalan turun-temurun. Sementara di luar negeri, biji kelabet atau fenugreek sangat populer.

Untuk mendapatkan manfaat praktis dari kedua bahan ini, kini tersedia suplemen herbal seperti Fulasi.

Fulasi memformulasikan ekstrak daun katuk dan ekstrak biji kelabet dalam satu kapsul.

Kombinasi ini bertujuan membantu para ibu menyusui yang sedang berupaya melancarkan produksi ASI mereka.

Dengan terdaftarnya Fulasi di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), ibu mendapatkan ketenangan terkait keamanan dan mutu produk yang dikonsumsi, sehingga bisa lebih fokus memberikan nutrisi terbaik bagi si buah hati.

Bagi yang tertarik, akses informasi produk, konsultasi gratis, dan pemesanan selanjutnya bisa melalui link di bawah ini.