Mata terasa silau secara berlebihan ketika menatap lampu kendaraan di malam hari merupakan kondisi yang tidak boleh kita abaikan.
Rasa silau yang wajar terjadi karena pupil perlu waktu menyesuaikan diri dengan perubahan cahaya mendadak. Namun jika intensitasnya berlebihan dan ada rasa tidak nyaman berkepanjangan, ada kemungkinan sistem optik mata sedang bermasalah.
Kondisi ini dalam istilah medis dikenal sebagai fotofobia atau glare sensitivity.
Pupil mata bekerja seperti diafragma kamera. Pupil melebar di tempat gelap untuk menangkap lebih banyak cahaya dan menyempit saat cahaya terang datang. Ketika seseorang berkendara di malam hari, pupil dalam kondisi lebar untuk memaksimalkan penglihatan.
Saat cahaya lampu kendaraan dari arah berlawanan menerpa langsung, pupil yang belum sempat menyempit menerima cahaya dalam intensitas melebihi kapasitas.
Pada mata yang sehat, proses ini berlangsung cepat dan tidak menimbulkan ketidaknyamanan yang berarti. Namun pada kondisi tertentu, respons adaptasi ini terganggu sehingga silau yang terasa jauh lebih kuat dan bertahan lebih lama dari seharusnya.
Baca: Peran Ometa dalam Menjaga Ketajaman Mata
Penyebab Medis di Balik Mata yang Terasa Silau
Katarak stadium awal menjadi salah satu penyebab paling umum dari keluhan mata terasa silau berlebihan, khususnya pada usia di atas 40 tahun.
Pengapuran lensa mata menyebabkan cahaya yang masuk mengalami hamburan tidak teratur sebelum mencapai retina. Ini akan menciptakan efek halo atau silau yang intens di sekitar sumber cahaya. Gejala ini sering pertama kali disadari justru saat berkendara malam.
Rabun senja atau nyctalopia juga erat kaitannya dengan keluhan ini. Kondisi ini muncul ketika sel batang retina tidak berfungsi optimal, sering kali karena defisiensi vitamin A atau degenerasi retina.
Sel batang bertugas menangani penglihatan di kondisi cahaya rendah, dan ketika fungsinya terganggu, mata menjadi ekstra sensitif terhadap cahaya terang yang datang tiba-tiba di kegelapan.
Mata kering atau dry eye syndrome turut berkontribusi. Lapisan air mata yang tidak merata di permukaan kornea menciptakan distorsi optik yang memperburuk persebaran cahaya masuk.
Kondisi ini sangat umum pada pengguna layar digital berjam-jam, dan gejalanya sering memburuk di malam hari ketika frekuensi berkedip sudah berkurang akibat kelelahan.
Baca: Perubahan Penglihatan Selama Kehamilan yang Perlu Diwaspadai
Peran Defisiensi Nutrisi dalam Sensitivitas Cahaya
Kekurangan vitamin A berdampak langsung pada kemampuan regenerasi rhodopsin, pigmen visual yang dibutuhkan sel batang untuk bekerja di kondisi cahaya redup.
Ketika rhodopsin tidak cukup tersedia, mata membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk beradaptasi dari terang ke gelap, sekaligus menjadi lebih sensitif terhadap cahaya terang yang datang mendadak. Ini menciptakan kondisi di mana mata terasa silau jauh lebih parah dari normal.
Defisiensi zinc juga berperan dalam masalah ini, meski sering luput dari perhatian. Kita membutuhkan zinc dalam proses transport vitamin A dari hati ke retina, tanpanya, retinol tidak bisa sampai ke fotoreseptor meski asupan dari makanan sudah mencukupi.
Kekurangan zinc dengan demikian secara tidak langsung memperburuk gejala yang berkaitan dengan adaptasi cahaya.
Antioksidan seperti lutein dan zeaxanthin, yang terkonsentrasi di makula, juga membantu menyaring cahaya biru berenergi tinggi yang bisa menyebabkan silau berlebihan.
Asupan yang cukup dari sumber sayuran hijau tua dan buah berwarna pekat membantu lapisan ini tetap berfungsi sebagai filter cahaya yang efektif.
Baca: Cara Membedakan Mata Merah Biasa dan Infeksi Menular
Kapan Terasa Silau Malam Hari Butuh Konsultasi ke Dokter Mata?
Silau yang terasa lebih dari beberapa minggu, terutama jika bersamaan dengan gejala penglihatan kabur, melihat halo di sekitar lampu, atau penurunan kemampuan melihat di tempat gelap secara progresif, perlu segera dievaluasi oleh dokter mata.
Gejala-gejala ini bisa menandakan kondisi yang memerlukan intervensi lebih dari sekadar perubahan pola makan atau suplementasi.
Pemeriksaan umum mencakup tes adaptasi gelap, pemeriksaan retina dengan oftalmoskop, dan pengukuran ketajaman penglihatan malam. Jika ada indikasi katarak, dokter akan melakukan pemeriksaan slit-lamp untuk melihat kondisi lensa secara langsung.
Mata terasa silau yang masih dalam tahap awal dan berhubungan dengan defisiensi nutrisi umumnya merespons baik terhadap perbaikan asupan.
Baca: Cara Mengidentifikasi Gangguan Penglihatan pada Anak Usia Sekolah
Herbal Pendukung Penglihatan, Ometa
Bilberi mengandung antosianin dalam konsentrasi tinggi yang secara spesifik mendukung regenerasi rhodopsin dan meningkatkan sirkulasi darah di kapiler retina.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi ekstrak bilberi secara teratur membantu meningkatkan kemampuan adaptasi mata terhadap gelap, sehingga kepekaan terhadap silau lampu kendaraan dapat berkurang.
Wortel dengan kandungan beta-karoten tinggi menyediakan bahan baku untuk sintesis retinol di dalam tubuh.
Baca: Bahaya Kebiasaan Merokok dengan Risiko Kebutaan Permanen

Sementara itu, sambiloto memiliki senyawa andrografolid yang terkenal dengan efek anti-inflamasi dan mendukung fungsi imun, dua faktor yang secara tidak langsung berkontribusi pada kesehatan jaringan mata secara keseluruhan.
Ometa memadukan ketiga bahan ini dalam satu suplemen herbal untuk mendukung kesehatan mata.
Bagi yang merasakan mata terasa silau berlebihan, terutama di malam hari, pendekatan dari dalam melalui dukungan herbal bisa menjadi pelengkap yang berarti di samping perawatan klinis dan perbaikan pola makan.
Jaga penglihatan malam tetap tajam, klik tombol di bawah dan kenali Ometa lebih dekat.




