Sering Tertukar, Pahami Beda Sakit Maag dan GERD

Memahami perbedaan mendasar antara peradangan lambung dan refluks asam demi mendapatkan penanganan medis yang tepat dan akurat.

Banyak orang sering kali kebingungan dalam membedakan gejala sakit maag dan GERD yang sebenarnya memiliki ciri-ciri yang sangat berbeda. Masalah pada sistem pencernaan ini memang melibatkan organ yang sama tetapi menunjukkan cara gangguan kesehatan yang berbeda.

Pemahaman yang salah mengenai kedua kondisi ini seringkali menyebabkan kesalahan dalam memilih metode pengobatan yang tepat. Ketepatan dalam mendiagnosis masalah perut adalah kunci utama sehingga pemulihan jaringan tubuh dapat berlangsung lebih efisien.

Istilah sakit maag sejatinya menggambarkan peradangan atau iritasi pada lapisan dinding dalam lambung. Kondisi ini biasanya timbul akibat infeksi bakteri atau penggunaan obat tertentu yang dapat mengikis mukosa lambung.

Kerusakan pada lapisan pelindung ini memungkinkan asam lambung bersentuhan langsung dengan dinding lambung, sehingga menyebabkan rasa nyeri yang tajam. Keadaan ini memerlukan perhatian khusus agar luka dalam lambung tidak berkembang menjadi infeksi yang lebih serius.

Di sisi lain, refluks asam kronis membuat isi lambung naik kembali ke kerongkongan yang menyebabkan rasa sangat tidak nyaman. Gangguan katup antara lambung dan kerongkongan menjadi penyebab utama mengapa makanan dan asam bisa kembali ke atas.

Tingginya tekanan di area perut kadang memaksa cairan asam melawan pertahanan otot kerongkongan. Hal ini menciptakan sensasi terbakar yang tidak hanya mengganggu aktivitas tapi juga dapat mengurangi kualitas tidur seseorang.

Baca: Penyebab Tukak Lambung yang Jarang Disadari Banyak Orang

Mengenali Perbedaan Gejala Sakit Maag dan GERD

Ciri khas yang paling sering terasa pada penderita maag adalah munculnya rasa nyeri tumpul pada area perut bagian atas. Sensasi perih ini biasanya akan semakin memburuk ketika perut berada dalam keadaan kosong atau justru setelah selesai makan.

Beberapa orang juga melaporkan adanya rasa penuh atau begah yang sangat mengganggu meskipun mereka hanya mengonsumsi sedikit makanan. Perasaan tidak nyaman ini sering disertai dengan sendawa yang terjadi secara berulang kali setelah proses makan selesai.

Penderita gangguan refluks biasanya akan merasakan sensasi terbakar yang menjalar dari perut hingga ke bagian dada atau tenggorokan. Gejala ini sering kali muncul dengan rasa pahit atau asam yang muncul tiba-tiba pada area belakang mulut pasien.

Kondisi tersebut sering kali memicu batuk kering yang sulit sembuh karena adanya iritasi pada saluran pernapasan bagian atas. Banyak pasien yang merasa seolah ada ganjalan pada tenggorokan sehingga proses menelan makanan menjadi terasa sangat sulit.

Baca: Asam Lambung Naik Saat Tidur, Kebiasaan Ini Jadi Biang Keladi

Penyebab Utama Masalah Lambung

Infeksi bakteri Helicobacter pylori merupakan faktor risiko paling umum yang memicu luka atau peradangan hebat pada organ lambung manusia. Selain itu, gaya hidup yang berantakan seperti konsumsi makanan pedas berlebihan dapat memperparah kerusakan lapisan pelindung di dalam.

Stres psikis yang tidak terkelola dengan baik juga memiliki peran besar dalam meningkatkan sekresi asam di dalam perut. Tubuh yang berada dalam kondisi tertekan cenderung memproduksi hormon yang justru menghambat proses regenerasi alami pada dinding lambung.

Kelemahan otot sfingter esofagus bagian bawah mengakibatkan asam lambung mudah bocor dan masuk ke saluran yang seharusnya tetap bersih. Kondisi obesitas atau kebiasaan langsung berbaring setelah makan berat menjadi pemicu utama mengapa gangguan katup ini terjadi.

Pakaian yang terlalu ketat pada area pinggang juga memberikan tekanan tambahan yang mendorong isi lambung bergerak menuju kerongkongan. Faktor usia terkadang turut mempengaruhi elastisitas otot katup sehingga fungsinya dalam menjaga cairan asam menjadi semakin menurun.

Baca: Perut Perih? Kenali Penyebab dan Cara Cegah dengan Suplemen

Bahaya Komplikasi Akibat Sakit Maag dan GERD

Jika seseorang terus membiarkan peradangan pada lambung tanpa pengobatan, maka risiko terjadinya perdarahan internal akan semakin meningkat secara signifikan. Luka yang semakin dalam berpotensi menyebabkan kebocoran pada dinding lambung yang membutuhkan penanganan medis sangat darurat dan cepat.

Tinja yang berwarna hitam atau gelap sering menjadi pertanda bahwa telah terjadi luka serius pada bagian dalam organ pencernaan. Kondisi ini merupakan sinyal bahaya yang mengharuskan seseorang segera melakukan pemeriksaan medis secara menyeluruh ke rumah sakit.

Paparan asam lambung yang terus-menerus pada kerongkongan dapat menyebabkan perubahan sel atau yang secara medis disebut sebagai Barret esofagus. Kondisi ini memerlukan pemantauan rutin karena memiliki keterkaitan erat dengan risiko munculnya kanker pada saluran kerongkongan manusia.

Penyempitan saluran kerongkongan akibat jaringan parut juga bisa terjadi jika iritasi asam membiarkannya berlangsung selama bertahun-tahun tanpa henti. Hal ini tentu akan menyulitkan masuknya asupan nutrisi ke dalam tubuh sehingga berat badan pasien cenderung menurun.

Baca: Pemicu Asam Lambung yang Sering Dilakukan Tanpa Disadari

Solusi Alami Menggunakan Soluma

Mengatasi gangguan pencernaan kini bisa dilakukan dengan cara yang lebih aman melalui pemanfaatan kekuatan bahan herbal alami pilihan berkualitas. Soluma hadir sebagai jawaban bagi mereka yang ingin menormalkan kembali produksi asam lambung agar tidak naik ke kerongkongan.

soluma sakit maag dan gerd

Baca: 8 Ciri Lambung Luka dan Cara Pengobatannya

Kombinasi antara temulawak, kunyit, dan ketumbar dalam formulasi ini bekerja efektif untuk mengurangi rasa nyeri hebat pada area ulu hati. Tambahan ekstrak kayu manis dan daun sembung membantu meredakan mual serta memberikan perlindungan ekstra pada dinding lambung manusia.

Rasakan kenyamanan perut setiap hari dengan menekan tombol berikut untuk mendapatkan solusi herbal terbaik Soluma.